Maleoveva’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Tuhanku Membawakan

Posted by maleoveva on November 18, 2008

Desir ombak terdengar mendebur, menyisir pasir pantai, borgoyang daun-daun dimana angin telah berhembus menembus pekatnya malam। Sang surya pun belum terbangun untuk memberi kehangatan dunia. Sayup sayup terdengar suara menyusup kehati menenangkan, mencoba menyiram jiwa laksana air surga yang ditimba dewi tercantik, “ya rob apakah itu?” sang pelantun tertegun dengan kesejukan hatinya,”ya rob tolong kau jelaskan dengan bahasa terindah, ada apa dengan ini?” sang pelantun semakin tertarik dengan geliatan tentram hatinya. Terlihat di ufuk timur suara-suara kecil semakin mendekat berterbangan menghampiri, “apakah ini bahasa tuhanku membawa pesan?” sang pelantun bertanya ke pada dirinya. Serombongan binatang-binatang terbang beriringan, berbaris layaknya ada yang memerintahkan untuk menunjukan keagungan dan kekuasaan sang khalik. Semakin larut terpana, semakin bersemayam menikmati suara-suara yang keluar dari binatang-binatang itu. Sang pelantun terus bertanya “ya rob, jantungku berdegup kencang, degupannya membahama di seluruh bumi, namun semakin terlelap kunikmati, selayaknya seribu cinta secepat cahaya menyelimuti ruang hati, melindungi kedamaian hidup, selaksana penjuru makhluk bumi terangguk meng-iyakan rasa. Damai, darah didalam tubuh mengalir tenang, tetap memompa, menyeimbangkan tekanan hasrat nyawa yang membumbung tinggi, membahagiakan perputaran waktu yang selama ini memaksa untuk megikutinya. Sang pelantun berbisik pelan” ya rob inikah waktu yang telah kau janjikan? Waktu dalam keadaan hati yang semakin dalam dan tertunduk bersimpuh.” Sang pelantun terus bekata” ya rob telah ku gantungkan harapan, cinta dan masa depanku di langit tertinggi, di kaki tuhanku, dengan doa dan kemauan ikhlas kujalani hidupku penuh syukur”. Masih terus terdengar binatang-binatang kecil itu terus bersuara, suara nyanyian selayaknya senandung yang sengaja ditujukan, suara yang menyendukan hati, memaku dinding-dinding jiwa, yang semakin muram di makan oleh kehidupan. suara-suara ini sejenak ingin mencoba melupakan, dan usaha untuk sebagai jalan menuju ampunan,rahmat dan petunjuk. Mulai terangkat sang fajar muncul tersipu di belakang iringan penyuara merdu, di timur kejauhan. Jago-jago shubuh mulai menunjukan kematangan nyanyian shubuhnya untuk membangunkan umat. Namun sang penyuara merdu tetap bersuara, suara-suara yang tak akan pernah berhenti terdengar, suara memuji nama rabbi-ku. Dan suara yang di wahyukan untuk menunjuki jalan penuh pelangi dunia dan untuk di kemudian hari. Penyuara-penyuara merdu mulai beranjak pergi membagikan kesyahduan di pelosok tanah berpijak. Sang pelantun berkata di tengah kerinduannya yang terdalam “ya rob terpujilah nama-mu,keagungan cintamu dan sesungguhnya engkaulah maha pengasih lagi maha penyayang”.

tulisan asli sebelumnya telah dipublikasikan pada tahun 2006 oleh : Maleo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: